Beranda > Personal > Ketika Bahasa Jadi Kendala…

Ketika Bahasa Jadi Kendala…

Ada orang sukses dengan lukisannya, ada juga orang sukses menyanyi dengan suara merdunya. Di sebrang sana ada orang sukses dengan jajanan yang dijajakannya. Sementara dipinggiran pantai Kuta ada orang sukses dengan statusnya sebagai guide. Yohanes Surya begitu mendunia dengan tim TOPI-nya, dan banyak lagi kisah seputar orang sukses dengan peranannya masing-masing. Namun ada satu faktor penunjang yang menjadi suplemen inti dari kesuksesannya, yaitu BAHASA. Seorang Mario Blanco pelukis asal Ubud Bali berhasil menjaga nama harum ayahnya, Don Antonio Blanco, dikarenakan dia pandai berkomunikasi. Bukan hanya berkomunikasi lewat lukisan-lukisannya, tetapi juga bagaimana Ia keluar dan berkomunikasi untuk mempublikasikan karya-karyanya dengan bahasa, terutama pemakaian bahasa inggris supaya bisa dinikmati dunia yang lebih luas.

Menyangkut bahasa, belakangan ini saya ditugasi begitu banyak pekerjaan yang hampir seluruhnya ber-referensikan bahasa inggris. Seperti menyusun laporan bulanan, korespondensi melalui email dengan customer asal China, dan mempelajari kontrak kerja yang semuanya dalam bahasa inggris. Saya cuma bisa mengelus dada dan berupaya sebisa mungkin semuanya berjalan lancar karena memang bahasa inggris saya yang jauh dari pas-pasan. Bayangkan, pas-pasan saja pasti sudah keblinger dengan serangkaian penulisan dan pengucapan, sementara untuk pas-pasan saja saya masih jauh.

Tak salah jika dalam seleksi penerimaan karyawan baru, sebuah perusahaan melakukan serangkain test bahasa inggris. Tidak tanggung-tanggung ada perusahaan yang menyewa konsultan atau assesor untuk tahap uji bahasa ini. Alasannya karena ditengah serbuan perusahaan-perusahaan asing, untuk meningkatkan daya saingnya perusahaan lokal berlomba menghadirkan SDM-SDM handal berkompeten dalam berbahasa. Pekerjaan menuntut setiap karyawan untuk bisa memahami bahasa dunia seiring kehadiran AFTA (ASEAN Free Trade Area) tahun 2003 lalu. Jauh sebelum itu bahasa inggris sudah digadang-gadangkan sebagai bahasa internasional.

Menoleh judul diatas, Ketika Bahasa Jadi Kendala, sejauh ini saya mempunyai pengalaman yang patut dicermati. Bukan untuk membongkar aib sendiri, tapi sebatas berbagi kisah kegagalan saya di masa lalu.

Nilai Bahasa Inggris di Raport Hanya Sekali Mencapai 8

Sekalinya dapat nilai 8, itu terjadi saat kelas 1 SMP CaWu I (dahulu CaWu = Catur Wulan, belakangan diganti Semester). Awalnya saya menyenangi pelajaran ini, namun entah kenapa setelah gurunya diganti mood menguap begitu saja dan berbalik menjadi antipati. Kemudian sejarah mencatat kalau saya tak pernah menyenangi pelajaran bahasa inggris. Sudah berupaya untuk sekedar memahami, tapi hasilnya selalu berujung dikepasrahan.

Gagal Masuk PTN

Mungkin hanya sebagian orang saja yang tak menginginkan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), tapi buat saya masuk PTN adalah sebuah obsesi yang sampai saat ini belum terealisir. Kendala utama tak lain dan tak bukan adalah kemampuan bahasa inggris saya yang minim. Eksak saya yang lumayan bisa diandalkan di hari kedua Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB tahun 2002) tak bisa menolong kehampaan ujian hari pertama, yaitu bahasa indonesia, bahasa inggris, dan matematika dasar. Kembali saya mengelus dada.

Setelah Lulus Kuliah, Susah Masuk Perusahaan

Siapa sih orangnya yang setelah lulus kuliah malah milih menganggur? mungkin ada, tapi presentasenya kecil. Tetapi ketika interview demi interview menghadapi user satu perusahan menemui hal buntu, hanya karena introduction saja tidak lancar, pasti ini biang kerok susahnya menjadi seorang karyawan, apalagi perusahaan itu berskala internasional.

Dan entah kegagalan apalagi yang akan menimpa saya kedepannya. Yang bisa saya lakukan sekarang hanya berusaha sekemampuan untuk mulai mengasah batu yang teramat tumpul. Mengingat Bahasa adalah aspek penting interaksi manusia. Dengan bahasa, (baik itu bahasa lisan, tulisan maupun isyarat) orang akan melakukan suatu komunikasi dan kontrak sosial. Bahasa juga dipandang sebagai cermin kepribadian seseorang karena bahasa diterjemahkan sebagai refleksi rasa, pikiran dan tingkah laku. Adakalanya seorang yang pandai dan penuh dengan ide-ide cemerlang harus terhenti hanya karena dia tidak bisa menyampaikan idenya dalam bahasa yang baik. Oleh karena itu seluruh ide, usulan, dan semua hasil karya pikiran tidak akan diketahui dan dievaluasi orang lain bila tidak dituangkannya dalam bahasa yang baik.

Kesuksesan ala Mario Blanco dengan The Blanco Renaissance Museum-nya atau Yohanes Surya dengan TOPI-nya pasti siapapun bisa meraihnya. Selain skill inti dibarengi kerja keras, usaha, dan doa, tentu perlu tambahan suplemen pelengkap berupa penguasaan bahasa. Hanya saja perlu pelatihan sejak dini dan bagaimana caranya menghindari stigma “benci dengan guru, benci juga pelajarannya“. Kelak kalau saya dikaruniai anak tidak akan pernah segan untuk memasukannya ke lembaga bimbingan bahasa, bila perlu bahasa daerah manapun akan saya suruh untuk menguasainya.
Wassalam

Terima kasih untuk Dila yang sudah berbagi dengan halaman sastra inggrisnya.

Cari Info :

Lowongan Kerja Terbaru 2010 , atau

Informasi Lowongan Kerja lainnya…

Boleh juga langsung ke Peluang Dolar Dari Internet !! !

Iklan
Kategori:Personal Tag:
  1. 4 Juni 2009 pukul 12:33 PM

    Hehehe… bahasa emang sering jadi kendala :mrgreen:

    Jgn pernah berhenti belajar, Mas… Semangat!

    • 4 Juni 2009 pukul 4:06 PM

      semangat.. semangat… πŸ˜€ makasih Deee…

  2. sakainget
    4 Juni 2009 pukul 12:46 PM

    wah… sy turut menyesal mendengar sejarah kang rudi.

    jika boleh sy mengungkapkan apa yg menjadi pendapat sy, bahwa untuk mencapai smua yg kita inginkan itu tidak sekedar butuh pikiran positif, kekuatan terbesar seorang hamba 4JJ1 ada pada perasaan yg positif.

    tidak ada kesulitan yg berarti tatkala kita memiliki perasaan yg positif. Semua yg terjadi dalam hidup ini berlaku hukum “Law of Attraction” – setidaknya itu yg sy baca di bukunya Mas Erbe Sentanu dg judul Quantum Ikhlas.

    Asa rada bener ayeuna mah komentar teh πŸ˜€ sugan weh enggal waras abdi teh πŸ˜€

    • 4 Juni 2009 pukul 4:17 PM

      Bener Kang, intinya ‘pikiran’ dan ‘perasaan’ yang positif…
      Saya berfikir kalau manusia dilahirkan dengan multi talenta, ada talenta yang menonjol dan ada yang samar atau malah tidak kelihatan sama sekali. Yang samar inilah yang perlu diasah (dilatih), karena bakat saja tidak cukup.
      Mana atuh Kang bukunya, buku Mas Erbe saya belum baca, baru ESQ nya Pak Ari Ginanjar, itu juga ga tuntas… πŸ™‚
      Kang Saka aslinya hebat, barusan saya ngintip kesini πŸ™‚

      • 4 Juni 2009 pukul 4:24 PM

        Insya 4JJ1 nanti kalo kopdar sy bawa bukunya πŸ˜€ – emg kapan ya blogger kuningan kopdar ?

        Maap nih baru bisa kesini, tadi sy habis terima tamu kehormatan dari negeri di awan. Maen intip2an euy ayeuna mah πŸ˜€

        Nu diintip sama kang Rudi mah, blog rada serius eta mah. Gak bisa terlalu puas ketawa-na, tak seperti sakainget πŸ˜€

        • 4 Juni 2009 pukul 4:32 PM

          Yah, blogger kuningan baru 4 kepala, 5 sama akang, gimana mau kopdar kang? mungkin jadinya maen gaple, yang satu mairan cai…. πŸ˜€

          Tapi insha Alloh, pami panjang yuswa urang kopdar saayana… πŸ™‚ Nuhun Kang bukuna… mau kunjungan kehormatan lagi ah…

  3. 4 Juni 2009 pukul 1:13 PM

    sama kayak saya, pengen banget ngelanjut S-2, tapi bahasa Inggrisnya masih centang prenang…

    • 4 Juni 2009 pukul 4:23 PM

      Kurang lebih “centang prenang” itu blepotan ya Mas?…

  4. 5 Juni 2009 pukul 11:38 AM

    kang casrudi,memang kemampuan kita serba terbatas,tapi kalau masih ada semangat utk meningkatkan diri alangkah hebatnya,mumpung masih ada waktu,masih diberi kesempatan , saya yakin Allah swt akan memudahkan,amin.
    ngomong2 coba ya bahasa sunda jadi bahasa internasional,jadi aja nggak perlu repot,ha….ha…salam.

    • sakainget
      5 Juni 2009 pukul 11:43 AM

      sy ajah ah yg ngebales… saat ini bahasa Sunda sedang mengarah ke go International, sudah mulai diterapkan di WordPress versi Sunda. Kalo gak salah di hape Sony Ericsson juga sudah mulai ada. Tidak menutup kemungkinan nanti masuk ke translatenya Google. mudah2an nantipun Google Adsense mendukung bahasa Sunda. susuganan weh kajadian πŸ˜€

      • 5 Juni 2009 pukul 12:54 PM

        ha…ha…mas sakainget saya balas disini juga aja ya,didoain yg banyak dan sering sama saya,mudah2an kejadiannya cepetan gitu ya,boleh sekalian tukeran link ya,salam.

        • 5 Juni 2009 pukul 2:14 PM

          @ Bunda : Duh Bun, kalau bahasa Sunda jadi bahasa internasional ga akan ada artikel keluhan diatas… πŸ™‚ Iya Bun, terima kasih supportnya…

          @ Papahnya Dervie : Nu leres Kang bahasa Sunda Go Internasional?… Rejeki buat Pak Asep Sunandar S tiasa ngawayang di payuneun bumi abdi… di Beckingham palace… πŸ˜€

        • sakainget
          5 Juni 2009 pukul 3:39 PM

          @bunda : makasih doanya bunda. smoga saja cepet terwujud. boleh bunda, link bunda sudah nangkring di sakainget

          @bing-bin : pasti go International poko’na mah, henteu tanggung2 kang Asep SS tiasa ngadalang di Capitol House payuneun Obama sakantenan… πŸ˜€

          Haduh, jadi kuring nu mondok moe di dieu πŸ˜€

        • 5 Juni 2009 pukul 3:48 PM

          @ Papahnya Dervie : heuheu… tos ijin teu ka ibuna murangkalih?… Engke abdi deui nu di seuseulan… πŸ˜€

  5. 5 Juni 2009 pukul 3:15 PM

    Hidupkan smangat 45-nya mas..sy jg msih standar dlm bhs.inggrs, pham seh pham..tp, gk bz dpraktekin..:D
    WAh update blogx rajin y ? sy bsok aja deh, insya 4jjI

    • 5 Juni 2009 pukul 3:34 PM

      Rio kudu ditingkatin tuh, sebelum nyesel… πŸ™‚
      ditunggu updetannya ya,,,

  6. 5 Juni 2009 pukul 3:55 PM

    Hhmm…..kalo English sich saya senang banget Mas, hanya saja sampai sekarang memang belum mahir percakapannya, tapi masalah grammar cukup bisa lah hihihihi..
    Wah terima kasih sekali untuk berbagi pengalamannya.. πŸ™‚

    HHmm…LInk sudah di pasang kok…

    • 5 Juni 2009 pukul 6:26 PM

      Iya Mas, cuma kisah kegagalan kok.. πŸ™‚ saya harap ga ada yang ngikutin jejak saya itu… Terima kasih nge-link’nya Mas !

  7. 5 Juni 2009 pukul 4:07 PM

    bahasa itu penyambung komunikasi pak

    • 5 Juni 2009 pukul 6:23 PM

      Betul Mas, terima kasih kunjungannya !

  8. 5 Juni 2009 pukul 4:19 PM

    Kueek. . kueek..kwek..Q Ckup(gk lbih) suka bhs.ingrs kok..tak add di PesBhut ya mas

    • 5 Juni 2009 pukul 6:22 PM

      Iya silahkan, nanti di confirm, yang foto profilnya Gerard Way kan? πŸ™‚

  9. Rychan
    5 Juni 2009 pukul 6:00 PM

    Sama mas saya juga nggak jago bahasa inggris, cuma pas-pasan!!! duit juga pas-pasan!!!! he….3x! btw bannernya dah jadi tuh (bikinnya sehari semalem!!! he…3x!!!) dilihat ya….. πŸ˜‰

  10. 5 Juni 2009 pukul 6:51 PM

    Pintar Matematika itu nggak menjamin jadi orang sukses mas, demikiman pula pinter eksak, tapi kalawo pinter bin ahli dalam bahasa, insya Alloh jaminannya lebih besar. Suruh sekalian calon bayinya besok untuk belajar B.Arab,Jawa,Sunda,Inggris, pokoknya berbagai macam bahasa pelanet gitulah.

    • 5 Juni 2009 pukul 9:42 PM

      Hehehe… setuju sama Mas Wandi, bahasa pembuka jalan untuk mengetahui segala hal…

  11. 5 Juni 2009 pukul 9:17 PM

    Saya tersindir dengan postingan ini Bang, daerah saya termasuk yang seirng dikunjungi bule – hampir tiap 2 hari sekali ada bule yang surfing – mau nanya-nanya banyak, tapi apa daya… 😦
    Yang banyak nanya malah anak-anak (siswa), guru fisikanya ga banyak omong, padahal pernah ngajar Bhs Inggris… πŸ™‚
    Sebenarnya bisa dikit, dikit banget (yes or no πŸ™‚ ), tapi kalo ngomongnya ke bule langsung, waduh …..

    • sakainget
      5 Juni 2009 pukul 9:32 PM

      kenapa waduh kang dede? sakainget ajah atuh πŸ˜€

      • 5 Juni 2009 pukul 9:45 PM

        @ Kang Dede : Waduh kang, enggak niat nyindir… πŸ™‚

        @ Papahnya Dervie : engga bisa sakainget, nanti bulenya nyasar, citra indonesia jadi jelek… πŸ˜€

        • sakainget
          5 Juni 2009 pukul 11:10 PM

          kalo citra indonesia jadi jelek masih bisa ditelusuri kang, ato jika memang parah itu bisa diretur sesuai dg perjanjian pada PO.
          seandainya gak bisa diretur, mungkin saatnya kita ganti supplier, gak harus citra indonesia, marina, nivea, ponds, olay – tenang aja kang, masih banyak pilihan….
          heuuuuuuuuu uing jadi ‘ngacapruk’ kieu……. πŸ˜€

  12. 5 Juni 2009 pukul 9:34 PM

    ya Allah, kang Cas. nilai bahasa Inggris 8 mah itu udah bagusss! boong kalo ga bisa bahasa inggris. saya sebenernya kecelakaan masuk sastra inggris. serius. saya gak bisa sama sekali bahasa inggris. hehehhh (yang ini boong gak yah?) :mrgreen:

    btw, tadi di komen saya baca soal bukunya Erbe Sentanu. oh ya? ya ampun, saya baru ajah nulis referensinya tuh. coba baca “THE SECRET: Pembuktian Ilmiah Terkabulnya DOA”

    thx anyway. πŸ˜‰

    • 5 Juni 2009 pukul 9:50 PM

      Iya start awal bagus Nenk, cuma kesananya seperti kisah diatas.
      Coba lihat referensinya ya… Trims infonya !

      • 5 Juni 2009 pukul 10:10 PM

        komen ini utk saya, kang? maksud “kesananya seperti kisah diatas” apa ya?? umm… πŸ™„

        maap-maap, emang suka telat mikir. :mrgreen:

        • 5 Juni 2009 pukul 10:31 PM

          Nenk dila kan bilang kalau nilai 8 itu bagus, memang bagus, tapi itu didapat pas baru masuk SMP, kesananya engga pernah lagi dapat 8. Menyedihkan memang… Ini jadi contoh engga bagus, saya terlalu mengidolakan guru bahasa inggris pertama saya, kala itu beliau pindah sekolah dan saya tidak menyukai guru penggantinya. Terjadilah stigma benci dgn guru kemudian menular ke pelajarannya.

  13. 5 Juni 2009 pukul 10:53 PM

    hoooo…. hehe. dasar dila telat. ya-ya. terkadang gara2 ga suka guru/dosen, jadi ngaruh ke pelajaran. tapi kadang, suka gurunya, pelajarannya ttp gak bisa tuh. kayak saya,, suka sama guru fisika & kimia & mtk saya. cara ngajarnya asik, tapi ttp aja, nilainya gak bagus2 amat. jadi gagal deh mimpi masuk ITB. coba nilainya bagus, udah mimpi dan nyoba masuk sana kali. lho kok jadi serita. tuing! πŸ™„

    • 5 Juni 2009 pukul 11:06 PM

      Wah, itu yang terjadi di kemudian hari. Sewaktu di SMA ada guru bahasa inggris yang saya sukai, cara ngajar dan penyampaiannya lugas. Dia lama di Australia, jadi kefasihan inggrisnya sudah teruji.

      tetep aja diL, udah ga suka bahasa inggris… πŸ™‚ sekarang aja baru berasa butuhnya… (kan keluar betawinya)

  14. 6 Juni 2009 pukul 6:02 AM

    Wah mas, ini bakal jadi pelajaran nih buat aku yg masih skolah. Bhasa ingrs ku jg pas-pasan, tapi mumpung masih sekolah aku mo belajar lg ah.. Mkasih mas

  15. 6 Juni 2009 pukul 11:09 AM
  16. 6 Juni 2009 pukul 11:18 AM

    Iya, bahasa itu sangat penting, jangan menyerah untuk belajar menguasai bahasa, Tapi bahasa itu bukan segalanya, dan jangan menyerah untuk berusaha hanya karena kurang menguasai bahasa!

  17. aspal07
    6 Juni 2009 pukul 11:31 AM

    Blognya telah saya link, lam kenal ya πŸ˜€

  18. 6 Juni 2009 pukul 12:08 PM

    sewaktu sekolah pelajaran yang selalu saya nantikan bahasa inggris karna saya selalu juaranya*sombongbanget* tapi sekarang dah lama ngak latihan lagi banyak kosa kata yang lupa.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: